8 Risiko Kesehatan yang Mungkin Terjadi
Setelah Aborsi
Tidak terhitung lagi banyaknya bukti akademis
yang melaporkan potensi efek aborsi yang merusak tubuh. Efek samping yang umum
dan bisa segera muncul pasca aborsi termasuk sakit perut dan kram, mual,
muntah, diare, dan bercak darah. Di luar ini, efek aborsi dapat menyebabkan
masalah yang lebih berbahaya. Sekitar 10 persen pasien aborsi menderita
komplikasi segera, dan seperlimanya termasuk kasus yang mengancam nyawa.
Maka penting untuk menyadari apa saja efek
aborsi serius yang mungkin timbul. Sebagian besar efek samping aborsi
berkembang memakan waktu lama dan mungkin tidak tampak selama berhari-hari,
berbulan-bulan, bahkan hingga tahunan. Efek samping aborsi yang parah
memerlukan bantuan medis sesegera mungkin.
1.
Perdarahan vagina berat
Perdarahan hebat sebagai efek aborsi serius
umumnya disertai dengan demam tinggi dan gumpalan jaringan janin dari rahim.
Perdarahan berat dilaporkan terjadi pada 1 dari 1000 kejadian aborsi.
Perdarahan hebat bisa berarti:
·
Adanya gumpalan darah/jaringan yang lebih besar dari bola golf
·
Berlangsung selama 2 jam atau lebih
· Aliran darah yang deras sehingga membutuhkan Anda mengganti
pembalut lebih dari 2 kali dalam satu jam, selama 2 jam berturut-turut
·
Perdarahan berat selama 12 jam berturut-turut
Baik aborsi spontan, medis, maupun ilegal
(dengan obat aborsi yang didapat secara ilegal atau cara “alternatif”
lainnya) sama-sama bisa menyebabkan perdarahan hebat. Perdarahan vagina yang
sangat hebat bisa berujung pada kematian, terutama jika aborsi dilakukan secara
ilegal dengan metode yang seadanya.
2. Infeksi
Infeksi adalah efek aborsi yang terjadi pada 1
dari setiap 10 kasus. Dalam studi meta-analisis terbitan jurnal Lancet yang
mengamati 1.182 kasus aborsi medis di bawah pengawasan ketat tim dokter rumah
sakit, 27 persen pasien mengalami infeksi yang berlangsung selama 3 hari atau
lebih sebagai efek aborsi.
Infeksi terjadi karena leher rahim akan
melebar selama proses aborsi yang diinduksi obat aborsi (baik resep dokter maupun
yang didapat dari pasar gelap). Ini kemudian menyebabkan bakteri dari luar
masuk dengan mudah ke dalam tubuh, memicu timbulnya infeksi parah di rahim,
saluran tuba, dan panggul.
Tanda-tanda infeksi setelah aborsi meliputi
gejala yang timbul mirip penyakit standar, seperti sakit kepala, nyeri otot,
pusing, atau sensasi “tidak enak badan” pada umumnya. Demam tinggi adalah satu
lagi contoh gejala infeksi setelah aborsi, walau tak jarang pula kasus infeksi
yang tidak disertai demam. Segera kunjungi dokter jika Anda mengalami demam
tinggi (di atas 38ºC) setelah aborsi yang disertai sakit perut dan punggung
parah sehingga Anda sulit berdiri, dan cairan vagina yang berbau tidak normal.
3. Sepsis
Dalam kebanyakan kasus, infeksi tetap berada
di satu area tertentu (rahim, misalnya). Namun, dalam kasus yang lebih parah,
infeksi bakteri masuk ke aliran darah Anda dan berjalan ke seluruh tubuh. Ini
yang disebut sebagai sepsis. Dan
ketika infeksi terlanjur menyerang tubuh Anda semakin parah sehingga
menyebabkan tekanan darah menurun sangat rendah, ini disebut sebagai syok
sepsis. Syok sepsis setelah aborsi termasuk kondisi gawat darurat.
Ada dua faktor utama yang dapat berperan
penting terhadap peningkatan risiko Anda terhadap sepsis dan pada akhirnya,
syok sepsis setelah aborsi: aborsi yang tidak sempurna (potongan jaringan sisa
kehamilan masih terperangkap dalam tubuh setelah aborsi) dan infeksi bakteri
pada rahim selama aborsi (baik lewat pembedahan maupun dengan cara mandiri).
Jika Anda baru saja melakukan aborsi dan
mengalami gejala berikut, segera dapatkan pertolongan medis:
·
Suhu tubuh sangat tinggi (di atas 38ºC) atau sangat rendah
·
Perdarahan berat
·
Nyeri parah
·
Lengan dan kaki pucat, juga terasa dingin
·
Sensasi linglung, kebingungan, gelisah, atau letih
·
Gemetar menggigil
·
Tekanan darah rendah, terutama saat berdiri
·
Ketidakmampuan untuk buang air kecil
·
Jantung berdebar cepat dan keras; palpitasi jantung
·
Sulit bernapas, bernapas dangkal dengan sesak napas
4. Kerusakan rahim
Kerusakan rahim terjadi pada sekitar 250 dari
seribu kasus aborsi lewat pembedahan dan 1 di antara seribu pada kasus aborsi
obat (resep dan nonresep) yang dilakukan pada usia kehamilan 12-24 minggu.
Kerusakan rahim termasuk kerusakan leher
rahim, perlubangan (perforasi) rahim, dan luka robek pada rahim (laserasi).
Namun sebagian besar kerusakan ini bisa tidak terdiagnosis dan tidak terobati
kecuali dokter melakukan visualisasi laparoskopi.
Risiko perforasi rahim meningkat pada wanita
yang sebelumnya telah melahirkan dan bagi mereka yang menerima anestesi umum
pada saat aborsi. Risiko kerusakan serviks akan lebih besar pada remaja yang
melakukani pada trimester
kedua, dan ketika praktisi aborsi gagal memasukkan laminaria untuk dilatasi
serviks.
5. Infeksi peradangan
panggul
Infeksi peradangan panggul (PID) adalah
penyakit yang dapat menyebabkan peningkatan risiko kehamilan ektopik dan
mengurangi kesuburan perempuan di masa depan. Kondisi ini berpotensi mengancam
nyawa. Sekitar 5% perempuan yang tidak terinfeksi oleh infeksi lain sebelum
kehamilan dan selama aborsi dapat mengembangkan PID dalam waktu 4 minggu
setelah aborsi pada trimester pertama.
Risiko PID meningkat pada kasus aborsi spontan
karena adanya peluang untuk jaringan kehamilan terperangkap dalam rahim serta
risiko perdarahan hebat. Keduanya merupakan media yang baik untuk pertumbuhan
bakteri; Selain itu, pada wanita yang sudah mengalami anemia sedang hingga
berat sedari awal, kehilangan darah lebih lanjut akan meningkatkan kemungkinan
infeksi. Pada aborsi yang diinduksi (baik legal maupun ilegal), instrumen dan
manipulasi eksternal juga meningkatkan kemungkinan infeksi.
6. Endometritis
Endometritis adalah kondisi peradangan pada
lapisan rahim, dan biasanya karena infeksi. Endometritis adalah risiko efek
aborsi yang mungkin terjadi pada semua, namun lebih terutama untuk remaja.
Remaja perempuan dilaporkan 2,5 kali lebih mungkin untuk mengalami endometritis
setelah aborsi dibandingkan wanita usia 20-29.
Infeksi yang tidak diobati dapat menyebabkan
komplikasi pada organ reproduksi, masalah kesuburan, dan masalah kesehatan umum
lainnya.
7. Kanker
Perempuan yang pernah sekali menjalankan aborsi
menghadapi risiko 2,3 kali lebih tinggi terkena kanker serviks daripada
perempuan yang tidak pernah aborsi. Perempuan yang pernah dua kali atau lebih
menjalani aborsi memiliki peningkatan risiko hingga 4,92.
Risiko peningkatan kanker ovarium dan kanker hati
juga terkait dengan aborsi tunggal dan ganda. Peningkatan kanker pasca-aborsi
mungkin disebabkan oleh gangguan hormonal tidak wajar sel kehamilan selama dan
kerusakan leher rahim yang tidak diobati atau peningkatan stres dan dampak
negatif dari stres pada sistem kekebalan tubuh.
Sementara itu berbanding terbalik dengan mitos
masyarakat, tidak ada hubungan antara aborsi dan peningkatan risiko kanker
payudara. .
8. Kematian
Perdarahan hebat, infeksi parah, emboli paru,
anestesi yang gagal, dan kehamilan ektopik yang tidak terdiagnosis merupakan
beberapa contoh penyebab utama dari kematian ibu yang terkait aborsi dalam
seminggu setelahnya.
Studi tahun 1997 di Finlandia melaporkan bahwa
perempuan yang aborsi berisiko empat kali lipat lebih mungkin untuk
meninggal akibat kondisi kesehatan di tahun berikutnya daripada wanita yang
melanjutkan kehamilan mereka sampai cukup umur. Penelitian ini juga menemukan
bahwa perempuan yang melakukan aborsi mengalami peningkatan risiko kematian
yang lebih besar dari bunuh diri dan sebagai korban pembunuhan (oleh
anggota keluarga maupun pasangan), daripada perempuan yang melanjutkan hamil
hingga 9 bulan.
Penting untuk dipahami bahwa sejumlah efek
aborsi di atas jarang terjadi dan beberapa risiko juga tampak mirip dengan
komplikasi persalinan bayi. Yang penting adalah bahwa Anda menyadari risikonya
sementara Anda berusaha membuat keputusan penting tentang kehamilan Anda.
By : Ana Tri Oktaviana
Email : Anarereviana@gmail.com
Blog : Anaoktaviana10.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar